Statuses

@YanaNoviadi dan @MandalaMekar: Usaha Tiada Henti Gerakan @DesaMembangun Melalui TIK

In Grameen, Innovation, Lingkungan, Pedesaan, Sunda, Telematika, Tokoh on 21 Mei 2013 by djadja Ditandai: , , , , , , , ,

Telematika Pedesaan

Telematika mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis sebagai komponen infrastruktur untuk perkembangan ekonomi. Pelayanan Telematika dapat menggantikan bentuk komunikasi lain dan seringkali lebih efektif penggunaannya baik dari segi biaya, waktu dan rantai distribusinya.

Peningkatan produktifitas komunikasi ini pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi di tempat tersebut. Meskipun menghadapi hambatan dalam restrukturisasi  industri Telematikanya, beberapa negara berkembang telah berhasil tidak hanya membuka kompetisi, namun secara bersamaan mencapai kewajiban pelayanan Telematika untuk umum (Universal Services Obligation).

Misalnya  pencapaian yang dilakukan oleh Grameen Telecom  di Bangladesh bekerja sama dengan pemberi kredit mikro Grameen Bank yang memungkinkan nasabahnya memperoleh kredit bergulir untuk berusaha di bidang warung Telematika di daerah pedesaan. Pengalaman Grameen Telecom , memungkinkan kita untuk menjalankan satu solusi potensial dari Penerapan Techno-Economy pada UKM di Indonesia terutama dalam melayani daerah pedesaan. Targetnya adalah melayani daerah yang tak dapat atau kurang terlayani dan menyediakan dukungan untuk pelayanan informasi  yang bermutu.

Dikutip dari Tesis Djadja Sardjana (IMTelkom, 2008), “Village Phone” dari Grameen Telecom merupakan proyek percobaan dari Grameen yang didirikan Muhammad Yunus yang pada tahun 2000 melibatkan 950 Village Phones yang menyediakan akses telepon kepada lebih dari 65,000 orang. Wanita-wanita desa/kampung mengakses kredit mikro untuk memperoleh pelayanan telepon selular GSM dan sesudah itu menjual lagi pelayanan tersebut di desa/kampung mereka. Grameen Telecom memperkirakan bahwa ketika programnya selesai, akan ada 40,000 operator “Village Phone” dengan laba bersih $24 juta USD tiap tahun. 

Program Village Phone muncul sebagai solusi teknis terbaik yang tersedia untuk akses telekomunikasi universal pedesaan sesuai dengan keadaan Regulasi Telekomunikasi Bangladesh dan kondisi ekonomi saat itu. Program “Village Phone” adalah suatu solusi organisatoris dan teknis untuk akses telekomunikasi pedesaan yang dibutuhkan oleh suatu lingkungan dengan regulasi telekomunikasi yang tidak mendukung bagi percepatan infrastruktur telekomunikasi pedesaan.

@DesaMembangun dan @YanaNoviadi

Desa Mandalamekar adalah salah satu wilayah terpencil di Kabupaten Tasikmalaya. Jaraknya sekitar 40 kilometer atau sekitar dua jam perjalanan dari pusat kota. Untuk mencapai kawasan itu, kita harus melewati jalanan rusak dan berbukit-bukit. Desa tersebut dibentuk tahun 1978, dengan luas mencapai 709 hektar. Kini jumlah penduduk di kawasan itu tercatat 3.370 orang. Sebagian besar warga adalah petani kebun dan pembuat gula aren.

Saat ini Kepala Desanya adalah Yana Noviadi. Program-program yang dicanangkan Kepala Desa Mandalamekar dirancang untuk mewujudkan visi Desa Mandiri pada 2025. Program jangka panjang ini sengaja disusun karena menurut Yana, siapapun yang menjabat, jika programnya sudah dicanangkan, akan tetap berjalan dengan pengawasan masyarakat.

“Desa harus benar-benar mandiri, tidak ada anggaran yang mengalir ke sini,” tutur pria lulusan SMA Negeri 4 Kota Tasikmalaya ini.

Kemandirian yang tengah dirintis Desa Mandalamekar bukan hanya mandiri dari segi pengelolaan sumber daya alam dan informasi. Desa Mandalamekar juga bekerja sama dengan salah satu komunitas open source dari Yogyakarta dan mencanangkan MGOS (Mandalamekar Goes Open Source!) untuk mencapai kemandirian teknologi.

Open source dinilai Yana sebagai teknologi yang bisa dikembangkan sendiri oleh anak bangsa. Kendati pun infrastruktur di desa masih sangat minim, Yana tetap berusaha memaksimalkannya.

“Kalau belum bisa merdeka, artinya belum bisa mandiri sepenuhnya. Kalau masih tergantung dengan orang lain, artinya masih terjajah,” tegas Yana.

Tidak pelak sekarang Yana juga terlibat aktif dalam Gerakan @DesaMembangun. Dalam sambutan peluncurannya, Yana Noviadi, Kepala Desa Mandalamekar, mewakili GDM mengucapkan, di dunia nyata desa telah dianaktirikankan begitupun di dunia maya, dimana desa tidak bisa menggunakan domain go.id. Yana bersyukur atas lahirnya desa.id. dia menyebutkan bahwa peluncuran ini baru awal.

“Ini baru awal, selanjutnya kami berharap pemerintah mampu menindaklanjuti agar desa-desa bisa memaksimalkan domain desa.id serta teknologi informasi dan komunikasi (TIK), sehingga informasi terjalin dengan hemat dan cepat sehingga tidak lagi khawatir saat harga BBM akan naik,” harapnya.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=wG0toL1W6u0]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: